Tebar Kebencian, Ini Sepenggal Kisah Penghina Presiden

0
18

Penyebar Kebencian Ilustrasi. (Foto: Ant) ARTIKEL TERKAIT Tanya Umur Berapa, Si Perempuan Kena Tempeleng Penghina Ibu Negara Doyan Bikin Gaduh Tim Pengacara Buni Yani Hadirkan Yusril Ihza Mahendra Repdem Laporkan Jurnalis, Koalisi Masyarakat Sipil Desak Megawati Bersikap Repdem Laporkan Jurnalis, YLBHI Desak Polisi Untuk Tidak Memprosesnya Jakarta, (Tagar 14/9/2017) – Berkas tersangka Sri Rahayu Ningsih dalam kasus penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di jejaring sosial facebook oleh Kejaksaan Agung dinyatakan telah lengkap.

“Infonya demikian,” kata Kepala Unit V Subdit Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKBP Purnomo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (14/9).

Menurut dia, pihaknya akan segera menyerahkan barang bukti dan tersangka kepada Kejaksaan Agung atau pelimpahan tahap dua. Selanjutnya tersangka Sri akan menjalani sidang perdananya.

“Nanti kami segera limpahkan ke kejaksaan untuk tahap dua, untuk sesegera mungkin disidangkan,” kata Purnomo.

Disebutkan, Sri Rahayu Ningsih menjadi tersangka dalam dua kasus yakni kasus berkas tersangka kasus penghina Presiden Jokowi di jejaring sosial facebook, dan kasus pengelola grup yang berisi konten ujaran kebencian di jejaring sosial facebook, Saracen.

Sri ditangkap oleh Satgas Siber Bareskrim Polri di Cianjur, Jawa Barat pada 5 Agustus 2017. Selain Sri, dalam kasus Saracen polisi telah menangkap tiga tersangka lainnya yakni Jasriadi (Jas), Muhammad Faizal Tonong (MFT), dan Muhammad Abdullah Harsono (MAH). Mereka adalah pengelola Saracen.

Grup Saracen diketahui membuat sejumlah akun facebook, di antaranya Saracen News, Saracen Cyber Team dan Saracennewscom. Kelompok Saracen ini diduga kerap menawarkan jasa untuk menyebarkan ujaran kebencian bernuansa SARA di media sosial.

Penangguhan Penahanan

Sementara itu, terkait dalam kasus ujaran kebencian yang melibatkan Asma Dewi, Ketua Presidium Tamasya Al-Maidah 51, Ansufri Idrus Sambo menyatakan akan meminta ke polisi untuk menangguhkan penahanan tersangka.

“Kami meminta ke polisi untuk menangguhkan penahanan Ibu Asma Dewi karena beliau adalah seorang ibu rumah tangga biasa,” kata Ansufri di Jakarta, Kamis (14/9).

Pihaknya menjamin bahwa Asma Dewi akan bersikap kooperatif dan tidak akan melarikan diri. “Kami jamin yang bersangkutan tidak akan melarikan diri,” ujarnya.

Menurut dia, Asma Dewi memang aktif mengikuti sejumlah Aksi Bela Islam. “Kami sering bertemu dalam aksi-aksi bela Islam. Pada waktu kami membentuk Tamasya Al Maidah, dia ikut aktif membantu bersama dengan Alumni 212 lainnya,” jelasnya.

Pihaknya pun meluruskan bahwa Asma Dewi bukan pengurus inti Tamasya Al Maidah, melainkan hanya anggota saja.

“Tamasya Al Maidah 51, koordinator dan ketuanya adalah Ustad Ansufri Idrus Sambo, Sekretarisnya Ustad Hasri Harahap dan Ketua Penasihatnya Pak Amien Rais, tidak ada jabatan lainnya. Jadi tidak benar pernyataan bahwa Ibu Asma koordinator atau bendahara Tamasya Al Maidah,” jelasnya.

Jangan Takut Lapor

Sementara itu, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan, pihaknya siap menerima pengaduan masyarakat yang mengetahui atau menjadi korban akun-akun penyebar kebencian atau fitnah di dunia maya.

“Meski tidak secara khusus membuat semacam Posko Aduan Ujaran Kebencian, kami berharap masyarakat tidak takut melapor,” kata Kepala Bidang Humas Polda DIY AKBP Yulianto di Yogyakarta, Kamis (14/9).

Menurut Yulianto, kasus ujaran kebencian di dunia maya yang melibatkan pelaku atau korban di DIY belum banyak. Terakhir, laporan kasus ujaran kebencian yang ditangani Polda DIY terkait dengan kasus penghinaan warga Yogyakarta melalui media sosial oleh Florence Saulina Sihombing pada 2015 dan konten fitnah di dunia maya yang melibatkan nama Sultan HB X pada April 2017.

“Kalau yang sekarang-sekarang ini kami belum menemukan dan belum ada laporan. Diskusi-diskusi di media sosial yang kami pantau juga tensinya tidak tinggi,” kata dia.

Meski demikian, ia mengatakan Polda DIY melalui Tim Patroli Cyber yang dibentuk sejak 2016 terus menggencarkan patroli di dunia maya untuk mengantisipasi munculnya akun-akun penyebar ujaran kebencian dan hoax di wilayah hukum setempat.

“Begitu mendekati momen-momen khusus seperti Pileg atau Pilpres frekuensi (patroli di dunia maya) akan kami tingkatkan,” kata dia.

Ia mengatakan, upaya menggencarkan patroli di dunia maya semata-mata untuk mempersempit peluang penyebaran ujaran kebencian dan hoax. Ia menegaskan, upaya ini tidak berkaitan dengan jaringan Saracen yang tengah diburu oleh Mabes Polri.

Mengenai jaringan Saracen, Yuli mengakui hingga kini belum mendapat instruksi dari Mabes Polri untuk melakukan penelusuran di DIY.

“Untuk jaringan Saracen kami tidak bisa mendeteksi sendiri karena yang bisa menentukan apakah itu jaringannya atau bukan hanya Mabes Polri,” jelasnya. (yps/ant) [ YLD ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here