Tahun Ini, Holding Tambang akan Dibentuk

0
27


Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan pembentukan induk usaha (holding) sektor pertambangan akan terjadi tahun ini.


BUMN yang ditunjuk sebagai induk holding BUMN Tambang itu adalah PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum.


Sementara, tiga BUMN lain yang berada di bawahnya antara lain PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, dan PT Timah (Persero) Tbk.


Alasan penunjukkan Inalum sebagai induk holding karena 100 persen sahamnya masih dimiliki oleh pemerintah. Selain itu, Inalum nantinya akan menguasai 65 persen saham Antam, 65,02 persen saham Bukit Asan, dan 65 persen saham Timah, dengan masing-masing di dalamnya terdapat 1 saham seri A milik pemerintah.


Sesuai dengan peta jalan BUMN 2015-2019, pembentukan holding BUMN Tambang dimaksudkan agar dapat menguasai cadangan dan sumber daya mineral dan batubara, menjalankan program hilirisasi dan peningkatan kandungan lokal, serta menjadi salah satu perusahaan kelas dunia.


Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media, Fajar Harry Sampurno dalam mengatakan, pembentukan holding ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemasukan negara dari pajak, royalti, dan dividen.


Saat ini, kata Fajar, total aset, liabilitas, dan ekuitas dari perusahaan-perusahaan tadi adalah Rp106 triliun, Rp24 triliun, dan Rp82 triliun.


Selanjutnya, perusahaan gabungan itu akan membangun industri tambang hulu ke hilir, mengurangi impor bahan baku industri, serta meningkatkan nilai tambahnya.


Inalum, misalnya, akan fokus meningkatkan produksi alumunium dari 240 ribu ton per tahun menjadi 500 ribu ton pada tahun 2021.


Inalum juga akan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai USD 3 miliar atau sekitar Rp39,9 triliun sampai 2021.


“Ini bukan hanya pakai dana Inalum, tapi kita juga pakai dana luar, pinjaman dan penerbitan obligasi,” ujar Direktur Keuangan Inalum, Oggy Achmad Kosasih.


Sebagian belanja modal itu akan digunakan untuk membangun Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Kalimantan Barat bersama Antam dengan tujuan mengurangi volume impor alumina (alumunium oksida).


Rencananya pembangunan akan dimulai dengan kapasitas sebesar 1 juta SGA per tahun dan meningkat menjadi 2 juta SGA per tahun. Proyek ini ditargetkan rampung 2019.


Sementara itu, PT Timah juga bersiap meningkatkan produksi dengan menambah enam kapal hisap tahun ini dengan belanja modal yang disiapkan mencapai Rp55 miliar per kapal. Dengan penambahan ini, maka perusahaan akan memiliki 26 kapal hisap untuk menambang timah di bawah laut.


Sementara itu, PT Antam akan mengembangkan perusahaannya dengan turut menggarap nikel. Namun, realisasinya masih terhambat izin untuk mengekspor ore nikel dengan kadar di bawah 1,7 persen dari Kementerian ESDM.


Direktur Utama Antam, Tedy Badrujaman pernah mengatakan, proses rekomendasi ekspor di Kementerian ESDM akan memakan waktu selama 14 hari. Jika mulus, setidaknya perusahaan bisa mengantongi izin ekspor nikel kadar rendah pada pertengahan April besok. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here