Rakhine Makin Kacau, Aung San Suu Kyi Masih Bungkam

0
19

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, mengecam dan menuntut Aung San Suu Kyi untuk segera menghentikan tindak kekerasan di Rakhine.

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, mengecam dan menuntut Aung San Suu Kyi untuk segera menghentikan tindak kekerasan di Rakhine. (Foto:TimeMagazine) ARTIKEL TERKAIT Fadli Zon: Pertemuan Menlu – Otoritas Myanmar Seperti Kunjungan Biasa Solusi Menlu Retno Tak Digubris, Presiden Jokowi Akan Panggil Dubes Myanmar Tetap Kirim Senjata, Bohong! Israel Peduli Konflik Rohingya Rohingya Bukan Konflik Agama, Menlu Retno Bertemu Menlu Iran Konflik Rohingya Mengerikan, Saling Bunuh ARSA dan Militer Myanmar  Yangon, (Tagar 6/9/2017) – Sejumlah desa di wilayah Rakhine, Myanmar Utara semakin kacau. Korban tewas dari pihak sipil terus meningkat disertai ledakan bom ranjau darat yang ditanam di lokasi konflik. Hingga saat ini penguasa de-facto Myanmar, Aung San Suu Kyi masih bungkam dan belum melakukan tindakan positif untuk menghentikan konflik berdarah di negaranya.

Sejumlah pejabat militer Myanmar dan gerilyawan Rohingya ARSA, saling tuding terkait pembunuhan warga sipil, pembakaran sejumlah desa dan pemasangan bom ranjau darat.

Sekitar 400 orang terbunuh dalam konflik di Rakhine sejak Jumat (25/8) lalu. Dunia Internasional menuduh militer Myanmar telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Badan UNHCR, PBB melaporkan, sekitar 73.000 orang telah melintasi perbatasan Myanmar menuju Bangladesh.

Badan UNHCR, PBB melaporkan, sekitar 73.000 orang telah melintasi perbatasan Myanmar menuju Bangladesh.(Foto:Offiziere.ch)

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, mengecam dan menuntut Aung San Suu Kyi untuk segera menghentikan tindak kekerasan di Rakhine.

Tekanan terhadap Suu Kyi dari dunia internasional terus mengalir ketika hampir 125.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh hanya dalam waktu 10 hari. Sedangkan Sekjen PBB, Antonio Guterres memperingatkan Suu Kyi akan adanya risiko pembersihan etnis dan destabilisasi regional di Myanmar.

H T Imam, penasihat politik Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, mengatakan, ASEAN dapat bergabung dengan Indonesia dalam memberikan tekanan kepada penguasa Myanmar. Sebelumnya, Pemerintah Malaysia, telah memanggil dubes Myanmar untuk menyatakan kecaman terhadap tindak kekerasan di Rakhine. Dari Islamabad, Pemerintah Pakistan menyatakan kesedihan yang amat mendalam atas tindak kekerasan di Rakhine.

Bom Ranjau Darat

Senin (4/9) lalu, dua ledakan keras mengguncang, di daerah perbatasan Myanmar dengan Bangladesh tempat warga Rohingnya mengungsi. Bunyi ledakan yang diduga bom ranjau itu disertai suara tembakan bertubi-tubi. Kantor berita Reuters melaporkan ledakan dan asap hitam terlihat di dekat sebuah desa di Rakhine.

Seorang pengungsi Rohingya di dekat lokasi ledakan membuat rekaman yang memperlihatkan sebuah benda logam berbentuk cakram dengan diameter mencapai sekitar 10 sentimeter ditanam di lumpur. Dia meyakini itu merupakan ranjau darat. Penjaga keamanan perbatasan Bangladesh juga menduga itu merupakan sebuah bom ranjau darat, meskipun belum dikonfirmasi kebenarannya.

Sementara itu, dua pengungsi lainnya melihat militer Myanmar berada di lokasi, sebelum ledakan terjadi, Senin (4/9), sekitar pukul 02.25 waktu setempat

Direktur Program Arakan yang memantau tindak kekerasan di Myanmar, Chris Lewa, menyebutkan, militer Myanmar berusaha menghilangkan barang bukti tindak kekerasan dengan mengumpulkan jasad korban kemudian membakarnya. Menurut Lewa, organisasinya telah merekam pembunuhan sedikitnya 130 orang dalam satu perkampungan di desa Rathedaung.

“Militer Myanmar mengepung desa dan kemudian menembaki orang tanpa pandang bulu,” kata Lewa, seperti yang dilansir Independent, Senin (4/9) lalu. Namun laporan Lewa belum dikonfirmasi kebenarannya.

Terkait bom ranjau darat, Zaw Htay, juru bicara  Aung San Suu Kyi, membantah bahwa pasukan militer Myanmar yang menanam bom ranjau darat itu. “Siapa saja bisa pergi ke sana dan meletakkan ranjau darat itu. Jika Anda menulis berdasarkan laporan seseorang di pinggir jalan, itu omong kosong,” kata Zaw Htay.(wwn/Reuters/Independent) [ WWN ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here