Pria Ini Nekat Bersepeda Menempuh Jarak 600 Km untuk Lihat Saudaranya yang Sakit, Setibanya di Sana Ia Menerima Kenyataan Pahit

0
45

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak mencintai dan menyayangi saudaranya.


Ya meskipun kenyataannya pertengkaran di antara mereka sering terjadi.


Tetapi justru inilah yang membuat kebersamaan mereka semakin erat.


Bahkan, hal itu pulalah yang sering membuat mereka rela berkorban pada saudaranya sendiri.


Iya seperti kisah Jessie Hallig, pria asal Filipina yang rela menempuh perjalanan hingga 600 kilometer demi menemui sang kakak, Rahmil (29) yang sedang sakit keras.


Pria berusia 22 tahun itu sebenarnya sudah lama mendapat kabar tentang sang kakak. Namun karena kondisi keuangan yang tak memungkinkan, ia pun terpaksa menunda pulang ke kampung halamannya yang berada di Barangay Hingra, Magallanes, sebuah kota di Provinsi Sorsogon, Filipina, sebagaimana dilansir Tribunstyle.com.


Tapi saban hari kondisi sang kakak dikabarkan semakin memburuk.


Mendengar hal tersebut, Jessie pun akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan menggunakan sepeda gunung miliknya.


Dengan sepedanya itu, ia memulai dari Kota Pasig, Manila dan menuju ke Biscol, Sorsogon dengan jarak tempuh 600 kilometer.


Perjalanan panjangnya ini sempat ia abadikan dan diunggah ke laman Facebook miliknya pada 16 Januari lalu.


“Magba-bike ako para sayo kuya rham. Gusto ko lumaban ka. Kaya mo yan, Kaya natin. Gagaling ka. Padyak koi to para sayo. (Aku akan mengendarai sepeda ini untukmu Rham. Aku ingin kamu berjuang. Kamu pasti bisa. Kita pasti bisa. Kamu akan sembuh. Perjalanan ini adalah untuk kamu),” tulisnya.



Unggahannya ini pun langsung viral, dan mendapat banyak respon dari netizen. Bahkan ada sejumlah netizen yang memutuskan untuk menemani perjalanan Jessie dengan cara berkonvoi.


Jessie yang ditemani oleh para netizen saat itu mengaku tidak menyangka, dan merasa sangat bahagia karena banyak yang mendukungnya.



“Hindi po ako nakakaramdam ng pagod magpadyak dahil maliban sa iniisip ko ang aking kuya Rham, parang lagi akong nakakargaha ng energy dahil sa dami ng sumusuporta. (Aku tidak merasa lelah karena selain berpikir tentang saudaraku, aku sangat gembira bahwa banyak telah mendukungku)” ucap Jessie.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, Jessie akhirnya tiba di kampung halamannya.


Rasa tak sabar untuk bertemu sang kakak telah menggebu-gebu di hatinya. Namun sayang, pertemuannya dengan sang kakak saat itu menjadi pertemuan yang terakhir kalinya.


Rham yang menderita penyakit Immuno-compromise Pneumonia sejak lama telah menghebuskan nafas terakhirnya.



Jessie yang melihat sang kakak sudah terbujur kaku di atas kasur langsung meneteskan air mata. Tangisannya pun memecahkan ruangan duka tersebut.


Selamat jalan Rham, semoga ditempatkan di sisi-Nya.


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here