Pembaca Iklan yang Cerdas

0
5

Pembaca Iklan Ilustrasi membaca iklan dengan cerdas. (Gambar: Ist) Tanpa kecerdasan membaca iklan, tanpa bekal pengetahuan tentang barang dagangan yang diiklankan, konsumen bisa menjadi korban, yang merana di kemudian hari.

Dalam suasana liberalisme yang menelikung ruang publik secara masif bertubi-tubi, sebuah perusahaan pengembang mengiklankan apartemen mewah dengan harga super murah untuk ukuran pesaing sesama perusahaan pengembang.

Apartemen yang akan dibangun di Cikarang, Jawa Barat, itu diiklankan ke publik dengan harga untuk tipe termurah seharga Rp 127 juta. Bisa dicicil setiap bulan Rp 1 juta. Siapa pun yang mengantongi Rp 2 juta bisa segera mendaftar untuk memesannya.

Iklan apartemen mewah dengan harga murah itu disebarkan lewat semua jalur komunikasi massa: media massa cetak, media massa digital, elektronik, brosur, gerai di mal-mal.

Hampir setiap hari koran cetak terkemuka di Ibu Kota memuat iklan penjualan apartemen yang disainnya sudah dibuat sedemikian detil dan menggoda itu.

Dari disain apartemen yang ditampilkan dalam iklan, tentu akan ada ratusan ribu unit tempat hunian yang hendak dibangun. Meskipun jumlah penghuninya begitu massal, iklan itu tetap mengesankan tentang kompleks yang asri sunyi dan menyenangkan.

Salah satu segmen iklan yang ditayangkan di televisi menggambarkan satu keluarga dengan seorang gadis kecil berlarian dan berhenti untuk menyentuhkan jemarinya pada seekor capung yang hinggap di sebatang pohon rumput yang tumbuh di hamparan luas kompleks apartemen.

Pada segmen iklan di media cetak, seorang aktris cantik dipotret sendirian dalam pose sedang melakukan yoga di taman yang tak tampak orang lain. Sungguh menarik dan menggoda siapa saja yang menginginkan bisa tinggal di lingkungan yang sunyi, sepi dan penuh kedamaian.

Pengembang sah-sah saja mengiklankan dagangannya dengan berbagai trik atau kiat beriklan yang tak 100 persen akan mencerminkan realitas. Karena iklan itu ditayangkan secara masif tanpa jeda hampir tiap saat, tak tertutup kemungkinan ada orang yang terlanjur memutuskan membeli tanpa dibekali pengetahuan seluk-beluk hidup dalam tempat hunian dalam bentuk apartemen.

Bagi yang sudah berpengalaman, membaca iklan itu tak serta merta memutuskan untuk membeli hanya karena membayangkan harganya yang demikian terjangkau.

Pembaca iklan yang cerdas akan menghitung lebih jauh tentang biaya yang akan dikeluarkan jika tinggal di sebuah apartemen. Biaya ekstra yang harus dikeluarkan secara rutin yang tak mungkin dikeluarkan ketika seseorang tinggal di tempat hunian dalam wujud rumah, yang tak memerlukan lift, biaya parkir dan lain-lain akan menjadi pertimbangan.

Masukan Konsultan

Itu sebabnya, konsultan properti sangat penting untuk dimintai masukannya sebelum memutuskan membeli tempat hunian berupa apartemen. Yang terpenting adalah berapa pendapatan minimal yang harus diperoleh seseorang yang sanggup tinggal di hunian apartemen.

Iklan sering tidak memasukkan informasi penting yang berupa perkiraan biaya yang mesti dikeluarkan konsumen sebelum memutuskan membeli barang atau jasa yang memerlukan pengeluaran operasional rutin untuk masa depan.

Sebagai contoh, di kebanyakan lembaga pendidikan tinggi di negara-negara maju, seseorang yang akan mendaftar masuk sudah diberi informasi tentang perkiraan biaya yang harus dikeluarkan sampai sang mahasiswa lulus memperoleh gelar bidang studi yang diikutinya.

Di sini, hampir semua universitas tak memberikan perkiraan biaya pendidikan semacam itu. Namun, untuk univeristas tertentu, meski tak menginformasikan biaya yang diperkirakan akan dikeluarkan mahasiswa hingga lulus, ada konsistensi untuk menetapkan biaya kuliah per semester sebesar nilai nominal yang dibayarkan saat awal masuk dan tak mengalami perubahan hingga mahasiswa itu lulus kuliah.

Di aparteman yang didagu (diklaim) menjadi kompleks atau pusat pertumbuhan ekonomi se-Asia Tenggara dengan kota standar internasional itu, pihak manajemen pengembang tak memberikan informasi perkiraan berapa penghasilan minimal yang semestinya diperoleh calon penghuni.

Pembaca iklan yang tak tahu menakar kemampuan kantong pribadinya namun membayangkan mampu membeli dan melunasi cicilannya, tanpa tahu harus mengeluarkan sekian juta rupiah per bulan untuk pemakaian fasilitas apartemen, akan merasa terjebak terlanjur tergoda oleh iklan yang sering bersifat mengecoh konsumen itu.

Dalam kompetisi dagang yang liberal, yang didukung kapitalisme, iklan sebagai sarana membujuk konsumen untuk membeli merupakan keniscayaan. Tanpa kecerdasan membaca iklan, tanpa bekal pengetahuan tentang barang dagangan yang diiklankan, konsumen bisa menjadi korban, yang merana di kemudian hari.

Tertipu membeli satu unit apartemen dengan harga murah, masih belum seberapa dampak destruktifnya terhadap kehidupan sang pembeli. Setidaknya, jika hal itu dibandingkan dengan tertipu oleh iklan makanan dan minuman yang digembar-gemborkan dapat menyehatkan tubuh padahal sejatinya merusak organ utama manusia.

Sebuah minuman yang diiklankan dapat memberikan kebugaran tubuh tapi substansinya yang jika dikonsumsi secara terus-menerus dapat merusak organ ginjal sang pengonsumsi sangat merugikan konsumen yang tak paham perihal zat-zat yang berbahaya jika dikonsumsi oleh orang-orang dengan keluhan penyakit tertentu.

Berbagai makanan olahan pabrik dengan beragam zat pewarna, pewangi, pengawet, pemanis, penyedap dan pengembang yang disajikan untuk makanan anak-anak yang jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang bisa membahayakan kesehatan anak-anak sering tak terpahami ancaman bahayanya itu oleh para orang tua.

Beruntunglah anak-anak yang orang tuanya paham ilmu gizi atau ilmu kesehatan sehingga melarang mereka untuk mengonsumsinya. Itu sebabnya, membaca iklan dengan cerdas di era sekarang adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar lagi. (M Sunyoto/ant/yps) [ YLD ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here