Miris! Konflik Rohingya Bisa Memicu Krisis Kemanusiaan Global

0
26

“Mereka mengalami kekurangan nutrisi. Mereka lapar dan trauma,” kata juru bicara Program Pangan Dunia, Bangladesh, Dipayan Bhattacharyya seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (7/9/). (Foto: Click Ittefaq) ARTIKEL TERKAIT Apa itu Etnis Rohingya di Myanmar? Ini Penjelasannya Siapa Sebenarnya Militan ARSA di Rakhine, Myanmar Utara? Ini Jawabannya Aung San Suu Kyi: Informasi Palsu Memicu Konflik di Rakhine Rakhine Makin Kacau, Aung San Suu Kyi Masih Bungkam Fadli Zon: Pertemuan Menlu – Otoritas Myanmar Seperti Kunjungan Biasa Jakarta, (Tagar 7/9/2017) – Konflik berdarah dan tidak kekerasan di Rohingya, Rakhine, Myamar Utara, bila tak segera diselesaikan, kemungkinan besar akan memicu krisis kemanusiaan secara global.

Saat ini, menurut salah satu pejabat agensi PBB, sekitar 300 ribu muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh. PBB mengakui, pihaknya mengalami kekurangan dana untuk mengurus para pengungsi Rohingya. “Mereka mengalami kekurangan nutrisi. Mereka lapar dan trauma,” kata juru bicara Program Pangan Dunia, Bangladesh, Dipayan Bhattacharyya seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (7/9).

Menurut Bhattacharyya, dia khawatir para pengungsi ini akan berjuang untuk makanan di antara mereka sendiri, tingkat kejahatan akan naik, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak akan meningkat.

Sementara itu, militer Myanmar masih terus melakukan operasi pembersihan etnis Rohingya. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya terhadap tindak kekerasan yang bisa memicu terjadinya malapetaka kemanusiaan.

Dari Teheran dikabarkan, Presiden Iran, Hassan Rouhani mengecam tindak kekerasan terhadap muslim Rohingya. “Kami merasa bertanggung jawab untuk orang yang tertindas di dunia ini, bahkan jika mereka bukan Muslim,” kata Rouhani. Untuk itu, Rouhani meminta pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan kejahatan biadab terhadap muslim Rohingya, seperti dilansir Tasnim News, Rabu (6/9).

Konflik berdarah di Rohingya juga membuat pemimpin kelompok milisi Houthi di Yaman, Sayyid Abdol Malik Badreddine al-Houthi ikut buka suara. Dia mengkritik sikap diam Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya terhadap kekerasan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar.

“Saudi dan beberapa negara Teluk Persia, tidak bergerak untuk menyelamatkan kaum Sunni di Myanmar,” kata Houthi dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Fars News, Rabu (6/9).

Sebelumnya, Turki juga telah mengecam sikap diam negara-negara muslim terhadap nasib muslim Rohingya. Kecaman itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlur Cavusoglu.

Merespons kritikan kelompok Houthi di Yaman dan Turki, kelompok negara Uni Arab dan Parlemen Arab langsung mengecam aksi kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Rakhine. Parlemen Arab meminta PBB, ASEAN dan negara-negara OKI untuk mengambil tindakan.

Walid Abdul Karim El Khereiji, Duta Besar Saudi untuk Turki, mengatakan, negaranya sedang berusaha menghentikan pelanggaran hak asasi manusia di Rohingya, Myanmar. Dia menekankan bahwa Arab Saudi secara aktif telah mendesak negara-negara Dewan Keamanan PBB untuk meminta Rohingya dibahas dalam agenda rapat DK PBB.

Parlemen Arab juga mendesak agar para pelaku tindak kekerasan di Rohingya dibawa ke Pengadilan Pidana Internasional karena telah melakukan kejahatan kemanusiaan, seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (7/9).

Di lain pihak, pemimpin senior al-Qaeda cabang Yaman, Khaled Batarfi, menyerukan serangan terhadap otoritas Myanmar untuk mendukung minoritas muslim di Rohingya. Demikian laporan pusat pemantau situs radikal di Timur Tengah, SITE.

Dalam pesan video yang dikeluarkan oleh yayasan media al-Malahem Al Qaeda, Khaled Batarfi meminta umat Islam di Bangladesh, India, Indonesia dan Malaysia untuk mendukung saudara muslim Rohingya.

“Jadi luangkan upaya melancarkan jihad melawan mereka dan memukul mundur serangan mereka, dan waspadalah jika membiarkan saudara-saudara kita di Myanmar,” kata Batarfi, menurut pusat pemantauan data yang berbasis di Amerika Serikat (AS) seperti dilansir Reuters, Minggu (3/9) lalu.

Menanggapi kecaman keras dari dunia internasional, seorang pejabat Myanmar justru menuduh kelompok Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) yang telah melakukan pembakaran rumah-rumah penduduk. Bahkan, katanya kelompok ARSA mengaku bertanggung jawab atas serangan terkordinasi terhadap pos keamanan Myanmar, beberapa waktu lalu yang akhirnya mengakibatkan munculnya konflik berdarah berkelanjutan di Rakhine, Myanmar Utara hingga hari ini. (wwn/Reuters/ChannelNewsAsia) [ WWN ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here