Minta Dipenjara di Cibinong, Ini Alasan Istri Terdakwa Korupsi Al Qur’an

0
20

Fahd El Fouz

Fahd El Fouz. (Foto: Ant/Sigid Kurniawan) ARTIKEL TERKAIT Fahd Jalankan Perintah Atasan Untuk Lakukan Korupsi Nazaruddin: Sandiaga Uno Pemilik PT DGI Suap Auditor, Anwar Sanusi Akui Permintaan ‘Atensi’ Untuk BPK Suap Auditor, Anwar Sanusi Akui Temuan BPK Rp 1 Triliun Kasus Jual-Beli Jabatan, Bupati Klaten Ungkap Konspirasi Lengserkan Dirinya Jakarta, (Tagar 7/9/2017) – Fahd El Fouz terdakwa dalam kasus dugaan suap dalam pengadaan laboratorium komputer MTs tahun anggaran 2011 dan Al Qur’an tahun anggaran 2011-2012 di Kementerian Agama minta dipenjara di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Cibinong, Jawa Barat.

“Saya mohon dapat meringankan kesusahan kami dan anak-anak kami agar mereka tetap dalam pengasuhan kami. Kami mohon jaksa penuntut umum KPK dan majelis hakim dapat memindahkan penahanan suami saya Fahd ke Lapas Cibinong agar lebih dekat dan juga pembinanan terhadap suami saya menjadi lebih baik karena dekat dengan keluarga,” kata Fahd El Fouz membacakan surat permohonan dari istrinya Rani Mediana dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (7/9).

Dalam perkara ini, Fahd yang pada 2011-2012 menjabat sebagai Ketua Gerakan Muda Musyawarah Kekeluargaan dan Gotong Royong (Gema MKGR) dituntut lima tahun penjara ditambah denda Rp 250 juta subsider enam bulan kurungan karena terbukti menerima suap Rp 3,41 miliar.

Terkait perkara ini, mantan anggota DPR Komisi VIII dari Fraksi Partai Golkar Zulkarnaen Djabar dan anaknya Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra sudah divonis masing-masing 15 dan delapan tahun penjara pada 2013 lalu. Keduanya juga menjalani hukuman di Lapas Cibinong.

Dalam suratnya itu, Rani meminta agar hakim memberikan belas kasihan terhadap dirinya selaku istri yang suaminya sudah dua kali dipenjara dalam kasus korupsi.

“Saya bertanda tangan di bawah ini, Rani Mediana istri Fahd El Fouz memohon bapak hakim agar tidak mengirimkan suami saya keSsukamiskin pada waktu perkara sudah in craht,” ungkap Fahd.

Ia mengaku bahwa setidaknya ada tiga faktor yang membuatnya mengirimkan surat permohonan tersebut. Alasan pertama adalah panjangnya waktu tempuh Jakarta-Bandung yang ia lalui bila harus mengunjungi Fahd setiap hari.

“Perjalanan jauh sepanjang empat jam untuk berangkat dan empat jam pulang dari Bandung harus saya tempuh setiap hari untuk menjenguk atau bertemu suami di Bandung,” ungkap Fahd.

Alasan kedua adalah kedua anak Fadh masih berusia delapan tahun dan dua tahun yang sulit bertemu dengan Fahd bila Fahd menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin, Bandung, sedangkan bila Rani bolak-balik Bandung maka ia pun kehilangan waktu untuk mengurus anak-anaknya.

Ketiga, faktor orangtua yang sudah cukup tua dan sepuh sehingga tidak bisa lagi berjalan jauh melalui darat dan membuat mereka tidak dapat menjenguk anaknya di Bandung.

“Jika untuk memberikan efek jera untuk suami saya, mengingat pada tahun 2012 dan sampai 2015 suami saya sudah pernah dihukum dan dipidanakan ke Lapas Sukamiskin maka sudah sangat membuat efek jera untuk suami saya dan saya pun sudah merasakan susahnya melakukan perjalanan darat pergi pulang setiap hari,” jelas Fahd.

Terkait permohonan itu majelis hakim mengatakan hal tersebut adalah kewenangan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). (yps/ant) [ YLD ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here