Lowongan, Indonesia Butuh Perusahaan Berbasis ‘Research Analysis’

0
6

Energi Terbarukan ENERGI TERBARUKAN: Energi terbarukan adalah sumber-sumber energi yang dapat habis secara alamiah, yang berasal dari elemen-elemen alam yang tersedia di bumi dalam jumlah besar sebagai “proses alam yang berkelanjutan”, seperti tenaga surya, tenaga angin, arus airproses biologi, panas bumi, dan tumbuhan. (Foto: Ist) ARTIKEL TERKAIT Preview Indonesia vs Fiji: Miskin Prestasi, Timnas Mungkin Sulit Menang Malang, (Tagar 29/9/2017) – Indonesia membutuhkan perusahaan berbasis “research analysis” yang memanfaatkan energi terbarukan secara tepat guna. Saat ini Indonesia masih harus puas dengan hanya menjadi distributor produk energi terbarukan asal Eropa.

“Dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia sangat mungkin untuk menciptakan energi terbarukan. Harapan kami Indonesia dapat mengejar ketertinggalan penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan pada tahun 2040,” kata praktisi energi baru dan terbarukan Dr Syarif Riyadi di sela kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Malang, Jawa Timur, Jumat (29/9).

Founder Energy Academy Indonesia itu mengatakan, dengan penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan, Indonesia akan menjadi pengekspor energi terbarukan bagi negara-negara yang membutuhkan dan minim sumber daya penciptaan energi terbarukan.

Saat ini, lanjut dia, Indonesia sudah saatnya memberikan dukungan bagi riset produksi electrical-vehicle sebagai aktualisasi persiapan Indonesia menghadapi degradasi bahan bakar yang digunakan sekarang, khususnya yang dieksplorasi dari sumber daya alam.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan dan berinovasi dengan energi terbarukan. Di negara-negara Uni Eropa seperti Jerman dan Belanda, permintaan untuk penggunaan transportasi berteknologi energi terbarukan sudah mulai berkembang secara konsisten.

Bahkan, kata Riyadi yang memiliki pengalaman sepuluh tahun bekerja dan meneliti di bidang energi terbarukan di berbagai negara Eropa, Belanda mentargetkan pada 2025 untuk tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak.

“Sayangnya, sekarang Indonesia masih harus puas dengan hanya menjadi distributor produk energi terbarukan dari negara Eropa, bukan sebagai pengeskpor,” ucapnya.

Karena itu, kata dia, Indonesia membutuhkan perusahaan berbasis research analysis yang memanfaatkan energi terbarukan tersebut.

“UMM sudah mengawali sebagai kampus sadar energi terbarukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya,” imbuhnya.

Untuk memenuhi kebutuhan listriknya, kampus UMM memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan tenaga surya. Dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan tersebut, UMM bisa menghemat biaya listrik sekitar Rp 50 juta sampai Rp 60 juta per bulan.

Sementara itu, founder Energy Academy Indonesia lainnya, Desti Alkano mengemukakan berdasarkan hasil penelitiannya, 20 tahun lagi perusahaan penyedia layanan listrik di Indonesia akan mengalami kebangkrutan jika tidak mengubah bentuk pelayanan menjadi “smart-grids innovation”.

“Smart grids innovation ini salah satunya sudah kami kembangkan di Belgia,” ujarnya.

Smart grid adalah jaringan listrik pintar yang mampu mengintegrasikan aksi-aksi atau kegiatan dari semua pengguna, mulai dari pembangkit sampai ke konsumen dengan tujuan agar efisien, berkelanjutan, ekonomis dan suplai listrik yang aman, serta mengurangi emisi karbon. (yps/ant) [ YLD ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here