Lindungi Pegawainya dari Tindakan Teror, KPK Dinilai Butuh SWAT

0
33

KPKKPK

Memalukan.info – Adanya teror fisik yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah semestinya menjadi trigger untuk menguatkan sistem keamanan di tubuh lembaga antirasuah tersebut. Setidaknya, dengan membentuk unit keamanan khusus yang tidak bergantung dari pihak lain, seperti kepolisian.

Peneliti hukum Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho mendukung dibentuknya unit keamanan itu. Bila perlu, unit tersebut mengadopsi kinerja tim polisi khusus di Amerika yakni, Special Weapons and Tactics (SWAT). ”Mereka (anggota tim keamanan khusus KPK, Red) direkrut dan dilatih secara khusus, bahkan dipersenjatai,” ujarnya, kemarin (14/4).

Menurutnya, tim itu mendesak untuk dibentuk. Mengingat, upaya teror terhadap KPK sudah terjadi selama 15 tahun terakhir atau sejak komisi tersebut didirikan 2002 silam. Ini baik ancaman fisik maupun nonfisik seperti gertakan lisan atau tulisan. ”Anggota tim nantinya direkrut secara mandiri oleh KPK, sehingga memiliki loyalitas terhadap KPK, bukan instansi lain,” bebernya.

Teror yang menimpa pegawai KPK tidak hanya menimpa Novel Baswedan. Pegawai lain juga kerap mengalami, khususnya yang bertugas di lapangan. Salah seorang pegawai KPK mengaku pernah mendapat ancaman fisik dan lisan saat memboyong terdakwa kasus korupsi ke pengadilan. ”Pernah ada yang mengancam mau membunuh,” ungkap pegawai KPK lain.

Lantas apa saja tugas tim khusus itu? Econ, panggilan Emerson menyarankan agar unit itu menjalankan tugas sebagai pengawal penyidik, pegawai dan pimpinan KPK dalam kondisi khusus. Misal, saat bertugas di lapangan yang berpotensi mendapat ancaman atau intimidasi. Hal itu biasanya sering terjadi saat melaksanakan tugas penindakan di daerah.

Selain itu, unit khusus itu juga dapat melakukan operasi senyap atau pengamanan untuk membantu tugas-tugas di bidang penindakan korupsi, termasuk operasi tangkap tangan (OTT). Tim keamanan juga mesti diberi kewenangan melakukan pengusutan dan penangkapan pelaku teror terhadap KPK. ”Istilahnya unit ini adalah Guardian of KPK,” tuturnya.

Mantan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja mendukung dibentuknya tim khusus itu. Hanya, dia menyarankan pembentukannya jangan sampai berlebihan. Sebab, dikhawatirkan bisa menimbulkan kontroversi. Apalagi, saat ini sudah ada aparat kepolisian yang memang dibekali untuk memberikan pengamanan. ”Perlu (dibentuk, Red) tapi jangan sampai hiperbola,” ungkapnya.

Komisioner KPK jilid 3 itu mengamini jika pegawai, terutama penyidik KPK kerap melakukan tugas yang berbahaya bagi keamanan fisik. Teror itu berkali-kali menimpa banyak pegawai dan pimpinan KPK yang biasanya sedang melaksanakan tugas penindakan korupsi. ”Tugas itu (keamanan, Red) memang harus dipantau aparat keamanan,” jelasnya.

Menurut Adnan, merujuk pada kasus penyiraman air keras terhadap Novel, ancaman dari pihak luar lebih cenderung menyerang ikon KPK. Intimidasi itu bertujuan memberi peringatan ke komisi antirasuah melalui penyerangan terhadap simbol KPK. ”Dialah (Novel, Red) ikon KPK yang sering menerima ancaman, dan bagi dia (Novel, Red) itu biasa saja,” imbuhnya.

Mestinya, kata dia, pihak kepolisian lebih maksimal memberikan keamanan bagi penyidik KPK seperti Novel. Sebagai ikon KPK, Novel yang paling rentan mendapat ancaman. Hal itu sudah terjadi saat KPK dibawah kepemimpinannya. ”Novel memang menjadi pantauan (pihak luar, Red), biasanya ada petugas (keamanan, Red) yang mengawal, kenapa ini (saat kasus penyiraman terjadi, Red) kok tidak ada?” tandasnya.

KPK bakal mempertimbangkan masukan membentuk unit khusus itu. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, saat ini pihaknya memang tengah membahas penguatan mitigasi risiko keamanan. Salah satunya, susunan protokol keamanan. Rencananya, operasional prosedur itu akan disusun lebih efektif dan kuat memberikan perlindungan. ”Usulan itu akan kami pertimbangkan,” tuturnya.

Sementara itu, perkembangan kasus Novel belum memuaskan. Jajaran penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) masih berupaya mengendus penyiram air keras ke wajah Novel. Hanya, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Mochammad Iriawan memastikan bahwa penyiram bukan dari pelanggan bisnis milik istri Novel, Rina Emilda.

Dia telah memeriksa Rina pada Rabu (12/4) lalu. Berdasar informasi dari sang istri, Iriawan menuturkan sebelum kejadian penyiraman, yaitu, pada Selasa (11/4),  tidak ada pelanggan gamis yang datang ke rumah Novel. Ada pun, lanjut Iriawan, pelanggan datang dan pergi dengan baik-baik. Tidak ada masalah yang terjadi. ”Pelanggan gamis istri Pak Novel aman-aman. Nggak ada yang mencurigakan juga,” tuturnya.

Namun, dua minggu sebelum penyiraman air keras, tepatnya  28 Maret, ada dua orang yang sedang duduk-duduk di depan samping kanan rumah Novel, sambung Iriawan. Iriawan mengklaim, pihaknya telah mendapat potret wajah keduanya. ”Kami sudah punya gambar wajah keduanya. Kini, kami terus lacak siapa mereka,” ungkap mantan Kepala Divisi Propam Mabes Polri tersebut.

Sejauh ini, 16 orang yang dijadikan saksi. Semuanya telah diperiksa penyidik. Kepala Bidang Humas Mapolda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, pihaknya tidak menghentikan penyidikan meski Novel berada di Singapura. Menurut dia, semua proses hukum tetap berjalan. ”Tetap diperiksa saksi-saksi lain juga,” beber Argo. (ndi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here