Jurnalis Jafar Merekam Horor Hitler di Teknaf

0
5

Pengungsi Rohingya PENGUNGSI ROHINGYA MENCAPAI 480.000: Seorang wanita pengungsi Rohingya bersama anaknya berdiri di dekat Kamp Pengungsian Ukhia, Cox Bazar, Bangladesh, Kamis (28/9). PBB menyatakan jumlah pengungsi Rohinya telah mencapai 480.000 orang sejak konflik di Rakhine berlangsung pada 25 Agustus 2017. (Foto: Ant/Akbar Nugroho Gumay). ARTIKEL TERKAIT Bantai Rohingya, India Justru Bantu Pasokan Senjata ke Myanmar Lempar Molotov, Jalan Pengiriman Bantuan Rohingya Coba Ditutup Terkait Krisis Rohingya, Inggris Batalkan Pelatihan Militer Myanmar Myanmar Tak Dukung Tim Pencari Fakta, PBB Tetap Minta Kesaksian Pengungsi Rohingya Suu Kyi: Buktikan Penindasan Rohingya! Trump ‘Cuek’ Terkait Pengungsi Myanmar Jakarta, (Tagar 2/10/2017) – Banyak cerita horor terekam selama empat jam di Teknaf.

“Wajah-wajah letih yang sebagian besar di antaranya menyimpan raut muka yang traumatis akan menumpahkan apa saja yang mereka simpan dalam memori otaknya begitu ditanya oleh siapa pun, termasuk jurnalis,” ungkap Jafar M Sidik, wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Laporan jurnalistik Jafar M Sidik bikin bulu kuduk merinding. Dia berada di Teknaf, perbatasan Bangladesh-Myanmar, merekam langsung bagaimana penderitaan arus pengungsi Rohingya.

Selama empat jam di Teknaf, Jafar mengaku menemukan kenyataan-kenyataan yang berlawanan dari laporan resmi pemerintahan Myanmar. Dalam catatannya, Pemimpin Myanmar yang juga peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, pernah menyatakan bahwa lebih banyak lagi masyarakat Rohingya yang bertahan di Rakhine ketimbang yang eksodus ke Bangladesh.

Suu Kyi juga berkata, arus pengungsi Rohingya telah berhenti dan menjanjikan untuk merepatriasi lebih dari setengah juta warga Rohingya yang berada di kamp-kamp pengungsian di negeri semiskin Bangladesh. “Kami prihatin mendengar banyak warga muslim lari menyeberangi perbatasan Bangladesh. Kami ingin memahami mengapa eksodus ini terjadi,” kata Aung San Suu Kyi sebelum Jafar tiba di Teknaf.

Seperti bergumam Jafar bertanya dalam hati, benarkah Suu Kyi ingin memahami? Benarkah arus pengungsian Rohingya telah berhenti?
“Tidak ada yang mengetahui pasti apakah Suu Kyi benar mengetahuinya. Tetapi seandainya dia berada di Teknaf di perbatasan Bangladesh-Myanmar, maka mungkin dia akan menyadari bahwa ucapan dia itu kurang didasari bukti,” tukas Jafar.

Satu setengah jam perjalanan darat dari Cox’s Bazar, pada Jumat 29 September 2017, Jafar tiba di Teknaf, titik utama masuknya pengungsi Myanmar ke Bangladesh.

Saat tiba di Teknaf, Jafar menyaksikan para pengungsi mengalir dari Myanmar. Jumlahnya bukan satu atau dua orang, bukan pula ratusan orang, melainkan ribuan orang setiap hari.

“Selama empat jam di Teknaf, sejak tiba sekitar pukul 13.30 sampai sekitar 17.30 waktu setempat, orang-orang Rohingya yang hampir seluruhnya bertelanjang kaki tak berhenti datang ke Bangladesh,” lapor Jafar.

Ia menyebutkan, para pengungsi umumnya tiba di Teknaf setelah menempuh perjalanan berhari-hari sambil menahan lapar yang teramat sangat di bawah kepedihan hati yang tiada terkira. Rumah-rumah dan desa-desa mereka dibakar. Anak-anak perempuan mereka diperkosa dan orang-orang tersayang mereka dibunuh tanpa sebab.

Setelah berhari-hari mencapai tepi Sungai Naf yang memisahkan Myanmar dari Bangladesh, mereka menyeberangi sungai ini dengan perahu-perahu milik warga Bangladesh yang berada di tepi lain Sungai Naf.

Para pemilik perahu, untuk membawa para pengungsi ke wilayah Bangladesh di Pulau Shapuree, menantang maut karena berisiko ditembaki tentara Myanmar. Sementara para pengungsi Rohingya membawa apa saja agar bisa menyeberang ke Bangladesh, umumnya membawa ternak seperti sapi, kambing dan ayam, yang mereka tukar untuk menebus perjalanan marabahaya mereka menyeberangi Sungai Naf demi mencapai Bangladesh.

Cerita Horor

Selama empat jam di Teknaf, Jafar banyak mereka cerita horor.

“Cerita mereka hampir sama,” kata Jafar.

Desa-desa yang dibakar dan dijarah, orang-orang tersayang yang dibunuh atau hilang tanpa pernah diketahui jejaknya, menyaksikan anak-anak perempuan mereka diperkosa, dan banyak lagi. “Padahal ini sudah hampir dua pekan dari pidato bernada rekonsiliatif Suu Kyi yang pernah menyatakan arus pengungsi telah berkurang,” kata Jafar bernada protes.

Di antara cerita horor itu, Jafar memperolehnya dari seorang pria berusia sekitar 60-an tahun bernama Safiullah yang baru saja tiba di wilayah Bangladesh pada Jumat (29/9) pagi. Ia tiba bersama rombongan pengungsi yang sebagian besar anak-anak dan wanita, dari Maungdaw di Myanmar.

“Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri anak-anak perempuan tetangga saya diperkosa bergiliran, berulang-ulang, di tepi sungai,” kata Jafar mengutip Safiullah yang tiba beberapa jam di Teknaf.

Safiullah yang mengaku rumahnya dibakar segera memutuskan bergegas membawa istri dan dua anaknya menempuh perjalanan berbahaya untuk mencapai Bangladesh. Sangat berbahaya bukan saja karena terus dikejar calon-calon pembunuh mereka, tetapi juga harus melewati tanah-tanah yang sudah dipasang ranjau.

“Saya melihat tubuh-tubuh berserakan (akibat ranjau) sehingga saya terpaksa tidak melewati jalan itu. Mereka menginjak ranjau yang ditanam tentara Myanmar,” kata Safiullah yang ditanyai Jafar di tepi salah satu cabang Sungai Naf di dalam wilayah Bangladesh, tak jauh dari perbatasan dengan Myanmar.

Lain lagi cerita Hasina Begum, perempuan berusia 30-an asal Maungdaw Sikoerpar, Rakhine State, Myanmar.

Hasina yang seperti Saifullah baru tiba di Myanmar pada Jumat (29/9) pagi itu, menyaksikan tembakan, pembakaran, dan penjarahan masih terus terjadi di kampungnya.

“Rumah kami dibakar. Adik-adik perempuan kami yang lain hilang entah ke mana. Setelah membakar dan menjarah, mereka (tentara Myanmar) mengejar semua lelaki kami,” kata Hasina.

Hasina dipaksa oleh keadaan yang mengancam nyawanya untuk segera meninggalkan Maungdaw bersama dua anaknya. Adik perempuannya ikut serta, yang juga memiliki dua anak dan juga tak tahu di mana suaminya kini berada.

Cerita horor terus mengalir dari Aiman Ul Alam, lelaki muda asli Cox’s Bazar yang menjadi penerjemah dan pemandu perjalanan ke Teknaf. Dia mengaku sudah terlalu sering mendapatkan cerita sangat menyayat hati dan tak berperikemanusiaan seperti dialami Safiullah dan Hasina Begum.

Ia menyatakan, para pengungsi Rohingya kini memilih malam hari sampai pagi buta untuk menyeberangi Sungai Naf guna mencapai Bangladesh. Siang hari sudah tidak lagi memungkinkan bagi Rohingya untuk melakukannya mengingat tentara Myanmar semakin sering berpatroli.

Jafar yang mencapai sebuah dermaga utama di sisi Bangladesh Sungai Naf pada Jumat (29/9) sore, tidak mendapati perahu-perahu yang mengangkut warga Rohingya. Namun dari jauh di sisi Myanmar Sungai Naf, terlihat titik-titik, entah kampung atau bangunan, seperti sisa sehabis terbakar.

“Saya sarankan Anda untuk jangan ke dermaga itu malam-malam karena tidak aman. Bukan karena ada bandit, tetapi begitu pengungsi-pengungsi itu merapat di dermaga, maka mereka akan mencari apa saja dari Anda karena mereka sangat kelaparan dan kehausan,” kata Aiman mengingatkan Jafar.

Dari Teknaf, para pengungsi Rohingya diangkut oleh truk-truk ke berbagai kamp pengungsi, di antaranya Ukhia dan Kutapalong, yang memakan waktu satu sampai satu setengah jam perjalanan.

Jafar tidak tahu, entah sampai kapan truk-truk itu tidak akan lagi mengangkut pengungsi Rohingya karena eksodus masih terus terjadi. Entah sampai kapan pula dunia tak lagi mendapatkan cerita-cerita horor mengenai kekejaman yang keluar dari mulut para pengungsi Rohingya, sampai PBB pun menyebut telah terjadi pembersihan etnis di Rakhine, rumah untuk ratusan ribu Rohingya yang menempati kamp-kamp pengungsi ala kadarnya di Bangladesh.

“Myanmar kerap membantah telah berbuat zalim dan telah terjadi pembersihan etnis di Rakhine,” kata Jafar lagi bernada protes.

Sayang, Myanmar hanya punya satu cara untuk membantah, yaitu dengan pernyataan. Myanmar terus menutup rapat-rapat Rakhine, padahal dunia perlu memverifikasi kesaksian ribuan pengungsi Rohingya itu.

“Sampai verifikasi didapatkan dunia, di antaranya membuka Rakhine untuk pers dan bantuan asing, bantahan telah terjadi pembasmian etnis di Rakhine adalah tak lebih dari penyangkalan belaka,” gugat Jafar.

Teka-teki Pembantaian

“Teknik Adolf Hitler sedang dipraktikkan di Myanmar.”

Kalimat itu dilontarkan Feysel U-Azize, pengungsi Rohingya berusia 25 tahun, di kamp pengungsi Jamtoli, Kecamatan Ukhia, Cox’s Bazar, Bangladesh, Sabtu (30/9).

“Yang dimaksud sarjana muda peternakan jebolan sebuah akademi Rakhine di Myanmar itu adalah pembantaian etnis dan genosida yang dilakukan Hitler terhadap Yahudi pada Perang Dunia Kedua,” kata Jafar menjelaskan.

Menurut Feysel, kata Jafar, apa yang dilakukan Hitler itu kini tengah dilakukan Myanmar terhadap Rohingya.

Myanmar, lebih tepat lagi Tatmadaw atau angkatan bersenjata, kata Fesyel, secara sistematis mengusir warga Rohingya dengan intimidasi mental seperti pemerkosaan, pembakaran, dan pembunuhan.

“Mereka memburu semua laki-laki berusia 15-50 tahun,” kata Feysel dari Rakaing-Balidong, Rakhine. “Sementara perempuan-perempuan kami diperkosa,” ujarnya.

Feysel mengatakan, teror mental dan psikologis sudah dirasakan warga Rohingya jauh sebelumnya. Banyak warga Rohingya, kata Feysel, sudah memperkirakan bakal menghadapi tekanan-tekanan yang semakin keras dari pemerintahnya. Tapi tak ada yang menyangka bakal jauh lebih ekstrem seperti sekarang.

Apa yang dikatakan Feysel beresonansi dengan tudingan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang menyebut eksodus besar-besaran pengungsi Rohingya ke Bangladesh akibat kekerasan di tanah asalnya di Rakhine, Myanmar, sebagai “darurat pengungsi paling cepat berkembang di dunia dan mimpi buruk kemanusiaan dan hak asasi manusia.”

Media-media massa internasional sudah kompak menyebut apa yang terjadi di Rakhine, Myanmar, terhadap Rohingya sebagai pembersihan etnis.

Majalah terkemuka The Economist menyebut krisis pengungsi Rohingya adalah yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir karena arus pengungsi per minggu dalam krisis Rohingya adalah yang tertinggi sejak genosida etnis Tutsi oleh Hutu di Rwanda, Afrika, pada 1994.

Bukti dari Jamtoli

Sudah tentu klaim Feysel, PBB dan media massa internasional itu dibantah keras oleh otoritas Myanmar.

Jumat 29 September, di depan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa, Penasihat Keamanan Myanmar U Thaung Tun menyangkal keras telah terjadi pembantaian etnis dan genosida terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine.

“U Thaung Tun boleh saja berkilah, namun kamp Jamtoli, dan kamp-kamp pengungsi Rohingya lainnya di Bangladesh malah menguatkan apa yang dituduhkan Sekjen PBB dan diklaim Feysel,” terang Jafar.

Selama setengah hari di kamp pengungsi Jamtoli, Sabtu 29 September, Jafar menyaksikan ribuan bedeng-bedeng bertabirkan dan beratapkan plastik memenuhi perbukitan di salah satu dusun di Kecamatan Ukhia, Cox’s Bazar, Bangladesh. Bedeng-bedeng sempit ini rata-rata ditempati sampai belasan orang.

Corona Rintawan, relawan dokter dari Muhammadiyah Disaster Management Center, yang bersama tiga dokter Indonesia dan beberapa paramedis lainnya tengah membuka posko kesehatan Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) di Kamp Jamtoli, menunjuk situs penampungan pengungsi beberapa langkah dari tempat Jafar berdiri.

“Yang di bukit itu diisi 20 ribu orang. Tetapi bukit sebelahnya jauh lebih banyak lagi, 50.000 orang,” kata dokter jebolan Universitas Brawijaya, Malang, itu kepada Jafar.

Padahal di Kamp Jamtoli itu, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang berada di bawah PBB, sampai 16 September sebelumnya angka pengungsi di sini baru “hanya” 24.000 orang, dengan 3.028 unit penampungan sampai 21 September yang rata-rata berukuran 42 meter per segi.

Pengungsi-pengungsi baru sendiri tak berhenti mengalir ke kamp-kamp pengungsi di Bangladesh sehingga memaksa situs-situs baru pengungsian dibangun karena yang lama sudah tak mampu lagi menampung manusia.
Badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, menyebutkan kurang dari satu pekan saja 420.000 pengungsi Rohingya menyeberang ke Bangladesh menghindari angkara kebencian berbungkus kebencian etnis di Myanmar yang sudah bergenerasi-generasi mereka diami.

Sampai hari ketiga di Cox’s Bazar, Jafar menyaksikan arus pengungsi Rohingya ke Bangladesh tetap saja tak terhentikan.

IOM sampai-sampai menyebut eksodus Rohingya ini sebagai peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dalam hal volume dan kecepatan arus pengungsi.

Sedangkan Kepala Komisi Hak Asasi Manusia PBB Zeid Ra’ad al-Hussein menyebut apa yang menimpa Rohingya sebagai “textbook example of ethnic cleansing” atau “jelas-jelas pembersihan etnis”.

Bayi Kurang Nutrisi

Beberapa pengungsi yang ditemui Jafar di Kamp Jamtoli dan tempat lain seperti Teknaf yang menjadi pintu masuk utama arus pengungsi Rohingya ke Bangladesh mengutarakan hal sama seperti diungkapkan Feysel.

“Mereka datang bergerombol ke kampung kami untuk membakar dan menjarah. Yang melawan akan ditembak atau ditebas. Tak ada pilihan bagi kami selain meninggalkan kampung kami,” kata Muhammad Kasim dari Maungdaw.

Beberapa depa dari Kasim, di sebuah barak yang dihuni para wanita, seorang wanita sambil menggendong bayinya antusias memperhatikan perbincangan Jafar dengan pria bertelanjang dada berusia sekitar 45 tahun. Sesekali dia menimpali dengan mengutarakan kalimat dalam Bahasa Bengali yang sama sekali tidak dipahami Jafar.

Kasim yang tampak memahami Bahasa Inggris, kendati terpatah-patah, membantu Jafar untuk menanyai si ibu.

Nama wanita ini kemudian diketahui Aisha Begum. Wanita berusia 38 tahun itu menggendong Hashina, bayinya yang baru empat hari dia lahirkan.

“Di mana suamimu?” tanya Jafar kepada Aisha.

“Tak tahu,” jawab Aisha, singkat, seperti banyak wanita Rohingya lainnya yang tak bisa lagi berkata banyak karena menyimpan kepedihan ditinggalkan orang terkasihnya yang nasibnya tak pernah lagi mereka ketahui.

Ukuran tubuh Hashina kecil sekali dan agak kemerah-merahan.

Dokter Rosita Rivai dari Dompet Duafa yang masih tergabung dalam AKIM tergerak untuk memeriksa si bayi yang ditaksirnya sudah berusia sekitar semingguan, bukan empat hari seperti diklaim ibunya.

“Bayi ini tidak disusui karena ibunya kurang nutrisi,” kata Rosita, lalu menyarankan Aisha untuk rajin membawa bayinya keluar barak agar terpapar cahaya matahari pagi.

Aisha bukan satu-satunya wanita yang dipaksa melahirkan di kamp pengungsian. Ada ribuan wanita lain seperti dia yang bahkan di antaranya harus melahirkan anak yang tidak mereka inginkan karena mereka korban pemerkosaan.

Dari data yang belum terkonfirmasi, angka wanita yang mengalami pemerkosaan itu disebut-sebut mencapai puluhan ribu orang.

“Wanita-wanita korban pemerkosaan ini ditampung di kamp khusus. Hanya WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) yang tahu tempatnya,” kata dr Muhammad Iqbal Mubarak yang juga dari Dompet Duafa-AKIM.

Mengajak Myanmar Berbicara

Media massa, badan-badan kemanusiaan, dan organisasi internasional kadung menyebut telah terjadi indikasi pemerkosaan massal seperti pernah terjadi di Bosnia dan Rwanda beberapa dekade lalu. Ironisnya pemerkosaan massal adalah salah satu teknik dari pembersihan etnis.

Pembersihan etnis sendiri, Jafar mengutip buku karangan James M Rubenstein pada 2008 berjudul “The Cultural Landscape: An Introduction to Human Geography”, adalah “pemindahan secara paksa etnis tertentu dari sebuah wilayah agar wilayah itu dihuni oleh etnis yang homogen.

Tekniknya bisa berbagai macam seperti migrasi paksa, intimidasi, pembunuhan massal dan pemerkosaan massal.

“Tak ada yang memastikan apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar, namun melihat arus migrasi pengungsi yang demikian masif dan cepat yang sampai kini tak berhenti dan berdasarkan definisi ‘pembersihan etnis’ dari James Rubenstein, petunjuk ada pembersihan etnis seperti ditudingkan Komisi HAM PBB, badan-badan kemanusiaan dunia, dan media massa internasional, memang kuat,” kata Jafar.

Myanmar harus membantah tudingan ini dengan cara yang lebih meyakinkan ketimbang yang mereka lakukan saat ini. Membuka diri dalam kasus ini, setidaknya berbuka diri kepada ASEAN, adalah cara terbaik dalam memberikan jawaban.

ASEAN sudah waktunya mengajak Myanmar berbicara kepada semua pihak bertikai, termasuk ratusan ribu pengungsi Rohingya di Bangladesh. Bukankah pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi sendiri pernah berkata, “Kami ingin mendalami mengapa eksodus ini terjadi. Kami akan berbicara kepada mereka yang pergi itu, selain kepada mereka yang tetap bertahan”.

Suu Kyi bahkan menyatakan pemerintahnya akan sesegera mungkin menerapkan rekomendasi Komisi Penasihat di Rakhine State pimpinan Kofi Annan yang salah satunya berisi rekomendasi kewarganegaraan etnis keturunan Bengali atau Rohingya ini.

“Semua poin rekomendasi yang bermanfaat bagi perdamaian, harmoni dan pembangunan di Rakhine State akan diimplementasikan dalam jangka waktu sesingkat mungkin,” kata Suu Kyi, 19 September lalu.

Dunia menunggu wujud janji Suu Kyi itu.

“Dunia menunggu langkah konstruktif ASEAN karena tuduhan serius PBB mengenai indikasi genosida telah dan tengah terjadi di salah satu bagian dari rumah besar ASEAN,” kata Jafar M Sidik, mewakili harapan banyak orang yang cinta akan kemanusiaan dan perdamaian. (yps) [ YLD ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here