Ini Dia Jenderal Myanmar Pemicu Rohingya Berdarah, Suu Kyi ‘Mati Suri’

0
14

Ini dia Jenderal senior, Ming Aung Hlaing, pemicu Rohingya berdarah, Suu Kyi ‘Mati Suri’ Ini dia Jenderal senior, Ming Aung Hlaing, pemicu Rohingya berdarah, Suu Kyi ‘Mati Suri’ (Foto:Ist) ARTIKEL TERKAIT Apa Kata Dubes RI di Myanmar Soal Konflik Rohingya? Begini Ceritanya Miris! Konflik Rohingya Bisa Memicu Krisis Kemanusiaan Global Apa itu Etnis Rohingya di Myanmar? Ini Penjelasannya Siapa Sebenarnya Militan ARSA di Rakhine, Myanmar Utara? Ini Jawabannya Aung San Suu Kyi: Informasi Palsu Memicu Konflik di Rakhine Yangon, (Tagar 10/9/2017) – Panglima tertinggi militer Myanmar, Jenderal senior, Ming Aung Hlaing tak pernah mau mengakui keberadaan etnis Rohingya. Baginya, Rohingya adalah imigran ilegal. Menurutnya, etnis Rohingnya adalah orang-orang buangan tanpa kewarganegaraan, meskipun mereka telah tinggal beranak-cucu di negeri itu.

Aung Hlaing adalah tokoh kunci konflik berdarah Rohingya. Dialah satu-satunya orang yang dapat memerintahkan tentara Myanmar untuk berhenti membunuh etnis Rohingya dan membakar desa-desa. Penguasa de-facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, ‘mati suri’ selama putuhan tahun, akibatnya Suu Kyi gagal menjalankan demokrasi di Myanmar.

“Jenderal Min Aung Hlaing adalah orang yang memberi perintah untuk membunuh Rohingya,” kata Kyaw Win, Direktur Burma Human Rights Network.

Suu Kyi memang pemimpin Myanmar. Namun, Undang-Undang Myanmar tak memperbolehkan dia menjabat sebagai presiden karena suaminya berkewarganegaraan Inggris. Suu Kyi hanya berperan sebagai penasihat presiden Myanmar, Htin Kyaw, yang jadi presiden atas restu Suu Kyi dan partainya, NLD (National League for Democracy) yang memenangkan pemilu tahun 1990 lalu. Di parlemen, militer Myanmar sangat berkuasa di bawah perintah Min Aung Hlaing. “Hanya dia yang dapat menghentikan tentara Myanmar untuk melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Rohingya, ‘kata Mark Farmaner, Direktur Burma Campaign, Inggris, seperti dilansir situs Burma Campaign UK.

Min Aung Hlaing juga menyebut militan ARSA sebagai teroris. Operasi bersih tentara Myanmar terhadap ARSA dilakukan secara membabi-buta sehingga menimpa warga sipil. Lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak dan bayi, semua jadi korban kebrutalan tentara Myanmar. Mereka ditembaki tanpa ampun. Operasi perburuan ARSA nyaris menjadi genosida.

Burma Campaign UK meyakini korban tewas mencapai ratusan orang, bahkan mungkin seribu lebih. Sementara lebih dari 10.000 rumah hancur. Kini, laporan-laporan baru yang masuk juga menyebut munculnya aksi pemerkosaan, penyiksaan dan  pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Setelah PBB melakukan penyelidikan, terungkap bahwa pelanggaran HAM telah dilakukan tentara Myanmar dibawah perintah Min Aung Hlaing. Pelanggaran-pelanggaran itu antara lain, tentara Myanmar memberi stempel pada bayi saat bayi itu lahir, membunuh bayi yang menangis karena haus ketika mereka memerkosa ibu si bayi dan menembak anak-anak dari belakang, saat mereka lari.

Farmaner dalam tulisannya di Hufftington Post, mengatakan, Min Aung Hlaing menyandera dana kesehatan dan pendidikan negara. Min Aung Hlaing juga mengancam proses perdamaian di Rohingya. Sedangkan Laporan Anders Corr dari Forbes menyebutkan, tanah dan ladang peninggalan orang-orang Rohingya yang melarikan diri diubah menjadi lahan agribisnis bagi petinggi-petinggi militer. Sejumlah aktivis HAM internasional mendesak dunia untuk menekan Min Aung Hlaing yang berada dibalik pembantaian Rohingya. Myanmar.(wwn/DBS) [ WWN ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here