Hidup Kita Bagaikan Sebuah Toples

0
73

toples

Seorang guru besar di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh toples yang bening dan besar di atas meja. Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau  bertanya, “Sudah penuh?”

Audiens menjawab: “Sudah penuh.”

Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya dan memasukkannya ke dalam toples tadi. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, “Sudah penuh?”

Audiens mjwb: “Sudah penuh.”

Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkannya ke dalam toples yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat kalau toples sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.

Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng, dan pasir itu.

Sang guru kemudian menjelaskan bahwa:
“Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya:
– Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan.
– Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.
– Pasir adalah yang lain-lan dalam hidup kita, seperti olahraga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan, dll.
– Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng dan bola tenis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobi, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.
– Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap.
Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali”.

Lalu sang guru bertanya, “Adakah di antara kalian yang mau bertanya?”
Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya, “Apa arti secangkir air kopi yg dituangkan tadi?”

Sang guru besar menjawab sebagai penutup. “Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahmi sambil ‘minum kopi’ dengan tetangga, teman, sahabat yang hebat. Jangan lupa sahabat lama, saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan, betapa indahnya hidup ini!