Gaya Hidup Sehat dan Monoterapi Bisa Cepat Sembuhkan Epilepsi

0
21

Pengobatan epilepsi menurut Hardiono akan lebih efektif melalui monoterapi atau memakai satu jenis obat. Pengobatan epilepsi menurut dr. Hardiono akan lebih efektif melalui monoterapi atau memakai satu jenis obat. Makin sedikit obatnya, makin bagus hasilnya. Sekitar 70 persen tidak kejang sama sekali. (Foto:Ist) Jakarta, (Tagar 8/9/2017) – Penyakit epilepsi bisa sembuh cepat dengan cara menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan pengobatan secara monoterapi.

Penyakit epilepsi atau ayan adalah sebuah kondisi yang memperlihatkan fisik seseorang mengalami kejang secara berulang. Kerusakan salah satu saraf di dalam otak diketahui sebagai penyebab sebagian kecil kasus epilepsi. Di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Tiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Pada kasus epilepsi, kejang terjadi ketika komunikasi antar impuls listrik itu berlebihan sehingga menyebabkan gerakan tubuh tidak terkendali.

Orang yang mengalami kejam berulang-ulang belum tentu mengidap epilepsi. Dalam dunia medis, seseorang disebut menderita epilepsi setelah mengalami kejang lebih dari satu kali. Tingkat keparahan kejang pada setiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung dalam beberapa detik dan ada juga yang hingga beberapa menit. Ada yang hanya mengalami kejang pada sebagian tubuhnya dan ada juga yang mengalami kejang total hingga menyebabkan kehilangan kesadaran.

Menurut data WHO, kurang lebih 50 juta orang di dunia mengidap epilepsi. Angka ini akan bertambah sekitar 2,4 juta setiap tahunnya. Di Indonesia pengidap epilepsi sekitar 700 ribu sampai 1,4 juta jiwa. Penyakit epilepsi tidak menular. Selama ini, banyak masyarakat salah kaprah soal penyakit epilepsi yang bisa menular melalui air liur, berpegangan tangan atau berbicara.

Jenis Epilepsi:

Idiopatik yaitu epilepsi primer yang merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun sejumlah para ahli menduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik (keturunan).
Simptomatik yaitu epilepsi sekunder yang merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya belum bisa di ketahui secara pasti, namun sejumlah faktor bisa jadi penyebabnya diantaranya ialah luka berat di kepala, tumor otak dan stroke.

Pengobatan Epilepsi

Penderita epilepsi harus memiliki gaya hidup sehat, diantaranya harus cukup beristirahat dan jangan stress. Menurut dr.Hardiono Pusponegoro, epilepsi tidak menular dan tidak mengganggu kecerdasan seseorang. “Bila seseorang  kejang lebih dari 15 menit, memang bisa merusak otaknya. Namun biasanya kejang hanya berlangsung tak lebih dari tiga menit,” kata ahli tumbuh kembang anak ini.

Pengobatan epilepsi menurut Hardiono akan lebih efektif melalui monoterapi atau memakai satu jenis obat. “Makin sedikit obatnya, makin bagus hasilnya. Sekitar 70 persen tidak kejang sama sekali,” imbuhnya.

Pasien epilepsi harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang karena itu diperlukan kepatuhan agar terapinya berhasil.  “Setelah dua tahun tidak kejang lagi, akan di evaluasi. Obat juga tidak boleh dihentikan seketika namun perlahan-lahan. (wwn/DBS) [ WWN ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here