Loading...
Hiburan

Di Hina Di Salah Satu Acara TV, Ulcok Tidak Mau Lagi Tampil Di Media

Andi Heriyadi Zulhajir, seorang netizen menulis esai jika dirinya menaruh perhatian kepada Ruslan Yusuf alias Ullang Commok alias Ulcok, si “kalkulator berjalan” asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Saking perhatiannya, Heriyadi ingin Ulcok menyudahi tampil di stasiun televisi sana-sini.
Ulcok diminta segera kembali ke Makassar sebab di Jakarta, dia seperti ‘dibantai’.
Diuji yang tak sesuai jenjang pendidikannya, sementara Ulcok mahir menghitung berdasarkan pengalaman empiris.
Ulcok juga harus menolak jika ditawari akting sebab itu akan membuat dirinya diolok-olok, lalu menjatuhkan citra dirinya sebagai sosok genius.
Lantas, harus seperti apa Ulcok, netizen yang pada akunnya pada Facebook menulis tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara ini, ingin Ulcok istrihat.
Dia lebih suka jika Ulcok main teka-teki atau jika ada dermawan, Ulcok segera kembali ke sekolah.
Berikut ini adalah esai Heriyadi selengkapnya yang dipublikasikan melalui laman seloroh.com, lalu dibagikan ke media sosial Facebook.
Terima kasih sudah menyuguhkan kehebatanmu, dek. Betul-betul bangga kami ini, nah… sekarang, ayo kita pulang, Jakarta sudah cukup kau kitari beberapa hari ini, toh mereka memanggilmu hanya untuk rating, sebentar kelar, kau pasti tenggelam oleh topik yang lebih “penting”.
Kau jangan mau ditawari dunia akting, saya yakin seyakin-yakinnya yakin, kau hanya akan diberi peran untuk lucu-lucuan, untuk ditertawakan. Pasti bukan tentang kehebatan hitung cepatmu. Masih ingat si Caisar yang terkenal dengan goyangannya? Dia itu jago nyanyi lho, tapi malah disuruh joget se-ekstrim itu, bahkan disuruh terlihat seperti orang bodoh, yang sebenarnya dia pintar. Mau kau seperti itu?
Oh iya, saya juga ingat, orang sekampung kita ada juga yang sempat beken di situ, dia juga bermula dari youtube. Datang dengan kemampuan pemahaman agama yang lumayan mumpuni, diundang ke Jakarta, nampang di banyak stasiun televisi, akhirnya dikontrak permanen oleh salah satunya. Saya tak tahu apakah pemirsa-pemirsa itu mau jujur, selama beliau nampang di televisi, yang ditunggu apanya? Ceramahnya? Sepertinya bukan, mereka lebih senang melihat gaya pak ustadz beratraksi memutar-mutar burdah (syal/selendang) atau kopiahnya menjadi Naruto, Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, ibu-ibu pejabat, dan sebagainya. Ya…mereka hanya menunggu momen-momen lucu, bahkan ketika pak ustadz mulai tak lucu, ia rela memanjat mimbar, sedihnya…
Nah, bagaimana denganmu? Kamu hebat…di Makassar. Di Jakarta sana mereka malah membantaimu, dek. Saya risih ketika kau menulis 942 yang seharusnya 972, atau ketika kau menulis 1992 yang seharusnya 1993, untung saja kau masih terselamatkan dengan angka 13.390 itu. Saya juga risih ketika kau menjawab “sebelas juta lebih ini”. Mereka ingin lebih, mereka ingin kau yang hanya sampai kelas tiga SD ini harus bisa menjawab presisi sampai bermilyar-milyar. Mereka ingin kau harus lebih cepat dari Dedi Corbuzier (meskipun si Dedi juga sebenarnya salah), atau lebih akurat dari kalkulator yang dipegang Jessica. Untung saja kau terselamatkan oleh Yudi Lesmana yang mengatakan kau lelah, dan saya yakin…beberapa hari ini memang kau sangat lelah. Kau sangat lelah memuaskan rasa penasaran pengunjung warkop, jajaran redaksi sebuah harian lokal, para pakar, dan sebagainya dan sebagainya…
Bagi saya itu sudah cukup, sudah cukup kau menghibur. Saya takut besok-besok kau jatuh sakit karena terlalu lelah, jangan sampai keceriaanmu hilang digerus undangan tes di mana-mana. Saya masih lebih senang mendengar teka-tekimu tentang kodok yang hanya butuh dua kali lompatan untuk menyeberangi sungai selebar seratus meter. Saya lebih terhibur dengan tebak-tebakanmu tentang rumah kebakaran yang tak mungkin bisa dicat. Ini lelucon segar dari seorang pria yang HANYA SAMPAI KELAS TIGA SD! Jadi tak perlu kau bersanding dengan Yudi Lesmana, tak usah adu cepat-cepatan sama Dedi Corbuzier atau kalkulatornya Jessica, yaa meskipun kalkulatornya jessica juga “agak-agak” miss.
Di sini saja, di Makassar, setiap hari bisa susah-senang bersama keluarga. Gonta-ganti nama gaul dari Ullang Co’mo’ menjadi Ultor, Ulan Bator eh…Ullang Kalkulator. Kalau lebaran tiba, silaturrahmi ke rumah sanak yang di Rappokalling, pastikan kalau sudah di Juanda sendalnya masih ada. Sesekali bolehlah menerima tantangan hitung cepat, tapi di dalam kota saja. Karena saya peduli, saya takut. Saya takut nanti Ulcok malah jadi tak bisa hitung-hitung cepat lagi gara-gara banyak kamera, gara-gara dibayar tinggi, atau gara-gara didampingi pakar, saya takut…
Mari, kita pulang… kalau nanti memang ada yang berhati mulia ingin membantumu meneruskan sekolah, pasti Tuhan akan mempertemukan, mari sini kita ngopi-ngopi, mending kita bahas batu-batu akikmu yang besar-besar itu, atau kita laporkan ke polisi si Abdul Rahman Hidayat yang mengataimu muka b**i atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Atau bagaimana kalau kita pinjam kalkulator Jessica lalu kita bedah? Intinya mari bersenang-senang hingga lelah, lalu pulang ke rumah, istirahat, besoknya main lagi… Asyik bukan? Sehat terus ya, Ulcok! We love you, beroohh…
You may also like…
Ulcok memang unik.
Ia tak hanya mampu menjawab semua pertanyaan hitungan (penjumlahan, pengurangan penambahan dan perkalian) dengan cepat dan benar.
Ulcok ternyata juga lihai dalam teka teki.
Sejumlah teka-teki Ulcok sempat membuat bingung dan tentu saja mengundang tawa.
Ulcok ‘memamerkan’ kemampunnya itu saat tampil di kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih nomor 430, Makassar, Selasa (16/2/2016).
Di hadapan Doktor Matematika UNM Dr Asdar dan tentor JILC, Ulcok yang memakai kaos oblong celana pendek dan sandal jepit membuat penonton takjub sekaligus tertawa terpingkal-pingkal.
Berikut sejumlah teka teki Ulcok:
“Kamu punya uang Rp1.500, beli gula-gula (permen) Rp 800, berapa kembaliannya?” tanya Ulcok.
Serentak semua menjawab Rp700.
“Salah. Kembalian cuma Rp200,” jawab Ulcok.
Kok bisa?
“Ya, karena kalau harganya cuma Rp 800, pasti cuma uang seribu yang kamu keluarkan, jadi si penjual kembalikan Rp200,” jawabnya.
Sontak jawab Ulcok ini membuat hadirin tertawa-tawa.
Ulcok kembali melempar teka teki yang tak kalah membingungkan.
“Ada kodok mau menyeberang di sungai. Panjang sungai 200 meter, lebar sungai 100 meter. Berapa kali kodok melompat sampai seberang?,” katanya.
“Banyak kali,” jawab salah satu penonton.
“Salah. Cuma dua kali lompat,” balas Ulcok.
Alasannya, kata Ulcok, kodok hanya melompat saat turun dan naik saja. Di sungai kodok tidak melompat tapi berenang.
Tak berhenti sampai disitu Ulcok kembali melontarkan teka tekinya.
“Ada tiga cewek membawa dua payung, lalu datang dua cewek lainnya. Tiba-tiba ada angin kencang. Berapa cewek yang basah?” kata Ulcok.
Hampir semua menjawab dua. Namun apa kata Ulcok?
“Tidak ada yang basah. Kan cuma angin bukan hujan,” katanya sambil tertawa.
Nah, diantara tiga teka tiki Ulcok berapa tebakan anda yang benar?
Sudah pintar membaca sebelum masuk sekolah
Ulcok sudah pintar membaca sebelum masuk SD sekitar tahun 1995. Padahal Ulcok tidak pernah sekolah di Taman Kanak-kanak (TK).
Kemampuan Ulcok itu hanya didapatkan melalui otodidak.
Ulcok memiliki daya ingat yang luar biasa.
Anda boleh percaya atau tidak, ia mampu mengingat semua nama teman kelas di SD, hari, jam, menit, lahir, dan semua hari ulangtahun saudaranya.
Jika ia mendengar bacaaan Qur’an 3 kali langsung dihafal.
Ulcok juga bisa membaca tulisan latin dengan posisi terbalik. Bukan sekadar bahasa Indonesia, bahasa Inggris sekalipun.
Doyan Kecap
Ulcok rupanya doyan mengonsumsi kecap.
Saat kemampuan berhitungnya diuji, dia bahkan meminta kecap.
“Mana kecapku Om, katanya tadi saya mau dikasih,” kata Ulcok dengan polosnya dihadapan jurnalis Tribun dan dosen yang mengujinya.
Ucok yang berpostur tubuh bongsor inj mengaku doyan makan dengan menggunakan kecap.
“Saya suka sekali makan pakai kecap om,” ungkapnya.
Sumber : terbuka.us

About the author

Nina Marliana

Leave a Comment