Apa itu Etnis Rohingya di Myanmar? Ini Penjelasannya

0
9

Tahun 2000, Human Right Watch menyebut Burma Citizenship Law menjadi akar konflik di Rohingya karena terdapat bab yang berisi Discrimination in Arakan, dengan fokus utamanya Denial of Citizenship. Tahun 2000, Human Right Watch menyebut Burma Citizenship Law menjadi akar konflik di Rohingya karena terdapat bab yang berisi Discrimination in Arakan, dengan fokus utamanya Denial of Citizenship. (Egyptian Chronicles – blogger) ARTIKEL TERKAIT Siapa Sebenarnya Militan ARSA di Rakhine, Myanmar Utara? Ini Jawabannya Aung San Suu Kyi: Informasi Palsu Memicu Konflik di Rakhine Rakhine Makin Kacau, Aung San Suu Kyi Masih Bungkam Fadli Zon: Pertemuan Menlu – Otoritas Myanmar Seperti Kunjungan Biasa Solusi Menlu Retno Tak Digubris, Presiden Jokowi Akan Panggil Dubes Myanmar Jakarta, (Tagar 7/9/2017) – Sejumlah literatur menyebutkan, Rohingya bukan nama suku. Rohingya memiliki arti “orang dari Rohang”. Rohang adalah penyebutan untuk Arakhan atau Arakan. Asal mula nama Arakan merupakan serapan dari kata Raham yang berarti Tanah yang Diberkati Tuhan.

Arakan adalah nama kuno dari wilayah Rakhine. Tak semua orang Arakan mengakui Rohingya. Di Arakan ada komunitas Buddha bernama Arakan Maghs. Orang Islam Myanmar yang tinggal di Arakan disebut Rohingya.

Sejumlah tokoh Arakan Maghs mengatakan orang Rohingya adalah orang-orang Bengali, nama suku di Banglades. Namun, orang Banglades  tak mengakui Rohingya sebagai etnis Bengali, karena tempat tinggal mereka adalah Arakan sebuah wilayah di Myanmar.

Dalam literatur sejarah disebutkan etnis Rohingya berasal  dari gelombang migrasi lintas benua sejak berabad-abad lalu. Mereka adalah bagian dari gelombang perdagangan orang-orang semenanjung Arab yang juga sampai ke Indonesia.

Kisah orang-orang Rohingya dikupas dalam buku A Short History of Rohingya and Kamans of Burma, versi terjemahan dari buku Rohingyas and Kamans karya M A Tahir Ba Tha.

Dalam buku itu disebutkan bahwa etnis Rohingya merupakan bagian kafilah dagang dari Semenanjung Arab dan dari kru kapal yang karam dan kemudian tinggal di Arakan. Asal-usul Rohingya sudah ditemukan sejak abad ke-8 Masehi.

Sebelum Myanmar (Burma) merdeka tahun 1948, Arakan dalam masa berbeda pernah menjadi kerajaan Hindu, Buddha dan Islam. Negeri Arakan subur dan damai. Namun, sejak Burma melakukan invasi, Arakan menjadi wilayah kolonisasi hingga Inggris mendarat di wilayah itu tahun 1824.

Etnis Rohingya berasal dari gelombang migrasi lintas benua sejak berabad-abad lalu. Mereka adalah bagian dari gelombang perdagangan orang-orang semenanjung Arab yang juga sampai ke Indonesia. (Foto:Council on Foreign Relations)

Tahun 1963, kebijakan Inggris diadopsi Burma. Rohingya semakin tertindas. Tahun 1982 Burma mengeluarkan Burma Citizenship Law. Burma berganti nama menjadi Myanmar tahun 1989 sejak dipimpin penguasa sipil.

Tahun 2000, Human Right Watch menyebut Burma Citizenship Law menjadi akar konflik di Rohingya karena terdapat bab yang berisi Discrimination in Arakan, dengan fokus utamanya Denial of Citizenship.

Bab Discrimination in Arakan menyebabkan warga Rohingnya tidak mendapatkan status kewarganegaraan resmi dari Myanmar. Mereka dicap sebagai pendatang atau suku ilegal.

Citizenship Law

Burma Citizenship Law, Myanmar, membagi penduduknya dalam tiga kategori kewarganegaraan. Masing-masing kategori menggunakan warna yaitu untuk warna merah muda statusnya sebagai citizenship. Warna Biru statusnya associate citizenship dan warna hijau statusnya naturalized citizenship.

Sedangkan warga Rohingya statusnya sebagai resident foreigner atau penduduk asing. Mulai dari sinilah terjadi diskriminasi soal hak-hak warga Rohingya di Myanmar.(wwn/DBS)

  [ WWN ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here